Thursday, October 28, 2010

Ketidakpahamanmu

Sekali lagi aku disadarkan oleh sebuah kisah, sebuah kisah perjalan hidup yang membuatku terdorong untuk tetap berdiri tegak. Aku diumur 18 tahun yang sudah kehilangan sosok ayah adalah moment yang sangat berat karena saat itu awal mula semua tujuan hidupku dimulai, dari mulai akademik dan non akademik. Dan sekarang saat 2 tahun lebih aku menjalaninya, baru terasa rasa amat sangat kehilangan sosoknya, baik dari materi maupun nonmateri. Seharusnya aku sudah lebih siap disaat umurku saat itu dibanding seorang anak kecil bahkan balita yang belum tahu apa arti hidup. Seorang anak itu biasa dipanggil AKA, setiap pagi selalu bermain sepeda sepanjang jalan depan rumahku. Ketika aku ingin berangkat, biasanya de AKA sudah nangkring didepan rumah dengan berkata "teh nana... teh nana... main sama aka yuk". Tapi tidak dengan pagi ini, wajahnya tidak terlihat disepanjang jalan rumahku. Anak-anak lainpun yang biasa bermain sepeda sambil sarapan tak terlihat. Saat aku masuk kembali ke dalam rumah untuk mengambil keperluanku untuk berangkat ke kantor sempat bertanya sama mamah. Dan mamah berkata "Bapaknya AKA meninggal na". Aku hanya bisa terdiam dengan seluruh buluku merinding dan meneteskan air mata karena membayangkan de AKA. Aku hanya membayangkan bagaimana de Aka hidup kedepannya tanpa belaian sang ayah? Bagaimana de Aka mampu menahan rindu pelukan sang ayah? Karena aku yang sudah berumur kepala 2 saja tak mampu membendung semua itu. Sepanjang jalan menuju kantorpun entah mengapa aku meneteskan air mata, sampai aku suka melamun saat mengendarai bee. Dalam hatiku berdoa:
Ya Allah lindungilah selalu adik kecil ini, berikanlah rahmatMu dan hidayahMu agar tetap bisa bertahan bersama ibunya. Ya Allah berikanlah ketabahan dan kesabaran pada keluarga yg ditinggalkan
Karena pagi ini aku tidak sempat mengunjunginya, aku hanya dapat cerita dari mamah tentang de Aka. Sikecil memang masih dalam tahap pertumbuhan belajar mengenal juga mengetahui sehingga memang tidak terlihat kesedihan dimatanya. Namun saat melihat foto sang ayah dipajang didepan rumahnya, de Aka berkata "Ayah dio, ayah dio" sambil menunujuk fotonya. Dan sang ibu hanya menganggukkan wajahnya dengan air mata. De aka berkata lagi "Mah ayah dio mana?" sambil menujuk kembali foto itu dan dalam hatinya pasti berkata kenapa hanya ada fotonya. Orang-rang yang berkunjung kesana hanya bisa menangis melihat de Aka yang selalu senang bermain bola walaupun di keramaian duka pagi ini. 
Tadi pagi sebenarnya rencana sekeluarga besar akan meluncur ke Surabaya namun de Aka bersih keras untuk tetap tinggal dirumah. De Aka tak mau ganti pakaian tidurnya dengan berkata "Aka gak mau ikut, aka dirumah aja sama mba 'nem, aka jaga rumah aja mah" dengan teriakkannya. Anggota keluarga yang lainpun sudah siap dalam mobil, sang ibupun semangat memaksa Aka untuk ikut karena memang janjian bertemu dengan ayah dio (ayahnya aka yang bertugas dinas di Pontianak) di Surabaya sesuai perbincangan di HP jam 11 tadi malam. Namun usaha sang ibu memaksa Aka untuk naik ke mobil juga tak berhasil sampai akhirnya mendapat kabar melalui telepon rumah dari komandan sang ayah yang diterima oleh sang nenek bahwa Ayah dio telah meninggal jam 03.00 dini hari. Rencana ke Surabayapun gagal, usaha mendapat tiket pesawat untuk menjemput jenazahpun tak berhasil, hanya bisa menunggu jenazah tiba di Jakarta.
Bayangkan hidupnya yang masih sangat butuh perhatian sang Ayah
Bayangkan hidupnya yang masih dalam tahap perkembangan dan pembelajaran
Bayangkan hidupnya yang akan datang hanya bersama sang Ibu
Tidak ada air mata yang menetes di mata de Aka karena memang sikecil tidak memahami apapun
Tapi suatu hari nanti de Aka pasti akan menangis kecang memanggil ayahnya ketika rindu itu tidak tertahankan
Ketidakpahamanmu membuat semua orang semakin meneteskan air mata
Ketidakpahamanmu tentang kehilangan orang yang sangat kamu cintai
Ketidakpahamanmu atas segalanya...
-na yg sangat tahu rasanya de AKA-

No comments:

Post a Comment

Sobat berikanlah sepenggal katamu pada postingan sampah ini ^__^