Wednesday, January 5, 2011

Jika Aku menjadi....

Sebuah acara yang dimuat disalah satu televisi swasta yang berhasil membuatku cukup banyak kembali menyukuri apa yg aku rasakan dan miliki hingga hari ini, jam ini dan detik ini. Tapi ada dua kisah fakta yang sangat jauh lebih menyakitkan dan sangat butuh ekstra kesabaran untuk bisa menjalani kehidupan ini.
Pertama adalah Mbah Surip, ini bukan mbah reggae ya tapi mbah uyut perempuan dari ibu. Beliau telah meninggal pada tahun 1994 dan suaminya lebih dahulu meninggalkannya. Beliau hanya memiliki satu orang anak yang tidak lain adalah mbah uti (nenekku). Usut diusut aku baru tahu bahwa suaminya mbah uyut adalh seorang kepala desa dahulu di desanya. Mungkin sama dengan saat ini, ketika sebuah kebanggan bisa menjadi istri seorang pimpinan baik lurah, camat, gubernur, walikota bahakan anggota DPR. Saat itu beliau sangat bangga dengan kehidupannya walaupun ternyata menjadi istri kedua sang suami. Hidupnya cukup berat dengan cobaan yang terus menerus menerpanya untuk menghidupi anaknya. Memang Tuhan itu Maha Adil dan karma itu  berlaku, suatu ketika mbah uyut pergi ke ladang untuk memanen padinya lalu pulang tengah hari karena waktunya makan siang. Beliau tidak pernah sekalipun marah kepada suaminya bahkan menentangpun tidak pernah. Hari itu, siang itu ketika dia membuka pintu rumahnya tak terdengar suara sedikitpun tetapi sepatu sang suami sudah terlihat dibalik pintu. Pikirnya suaminya sedang tidur siang, namun ketika beliau memasuki kamarnya ternyata sang suami sedang tidur dengan wanita lain. Tanpa emosi sedikitpun, beliau menutup pintu kamarnya kembali meninggalkan suaminya yang telah asyik dengan wanita lain yg juga bukan istri pertamanya. Mungkin dipikirannya adalah sebuah balasan akibat yg telah dilakukannya. Tidak dengan marah-marah membanting perabotan rumah tangga seperti di film-film atau bahkan nangis bombay kayak film India, kesabarannya untuk tetap terlihat tegar dengan senyumannya. Jika Aku menjadi Mbah Uyut, mungkin aku akan bunuh dua orang yg ada dikamar itu dengan segala kekuatan yang ada (sedikit lebay dengan kesadisan). Tapi aku sangat butuh figur beliau, beliau yg selalu mengajarkan sebuah kesabaran dan keikhlasan agar aku mampu menghadapi segala cobaan kehidupan ini.
Kedua adalah Mba Wulan, teman sekantor yang baru kenal 6 bulan terakhir ini. Awalnya memang kita cuma kenal, sekedar ngobrol atau say hello kalo ketemu tapi 2 bln terakhir intensitas kita bareng-bareng semakin tinggi, dari mulai solat, sarapan, beli makan, makan siang, turun kebawah saat pulang sampai tidur di musholla basement. Wanita ini yang aku tahu memiliki satu anak jagona bernama Yudha yang masih duduk dibangku kelas 3 SD dan biasanya selalu dibawa ke kantor klo liburan sekolah. Dia yang meggunakan jilbab dan kacamata dengan wajah yang sering pucat, yang awalnya aku pikir karena dinginnya ac kantor. Hidup dengan berbagai usaha untuk bisa menghidupi Yudha adalah sebuah tantangan yang dia jalanin dengan sabar dan ikhlas. Segala upaya dilakukan untuk bisa mendapatkan uang, dari mulai jualan peyek, pulsa sampai obat-obatan herbal dikantor. Ini yang aku tahu awalnya bahwa ia adalah wanita tegar hidup dengan Yudha yang ditinggal begitu saja oleh suaminya padahal saat itu ia menikah muda, saat masuk duduk dibangku kuliah yang akhirnya tidak bisa lulus kuliah karena accident tsb. Ternyata tidak hanya ini beban yang dipanggulnya, ia menimpa sebuah penyakut yang sampai saat ini masih belum ada obatnya. Ia mengidam kanker payudara dan payudara sebelah kirinya sudah diangkat atau dioperasi. Karena penyakit ini juga ia ditinggal oleh suaminya. Tanpa rasa dendam ataupun marah kepada suaminya yg telah meniggalkannya, bahkan menuntut ke keluarga sang suamipun tidak dilakukan. Mungkin pikirnya adalah memang itu yang terbaik tapi hatiku sangat marah ketika mendengar ceritanya. Seberapa luas kesabaran yang dimilikinya, seberapa besar tenaga yang membuatnya kuat bertahan dengan siganteng yudha. Jika aku enjadi Mba Wulan, mungkin aku akan memnuntut laki-laki untuk bisa menghdupi siganteng yudha atau bhakan menuntut keluarganya (sedikit meminta keadilan ditegakkannya hukum). Tapi kejadian ini membuat aku berpikir untuk selalu bersyukur dengan apa yang aku rasa dan miliki, selain itu aku juga aku ingin bisa menjadi wanita tegar dan kuat sepertinta.
Jika aku menjadi ke 2 wanita itu pasti aku akan lebih bisa hidup tenang dengan laut kesabaran yang luas dan gunung keikhlasan yang tinggi, tanpa ada satupun orang yg merasa tersakiti akan sikap atau sifatku. Kisah ini membuat aku sadar bahwa beban yang aku rasa terberatpun belum seberapa dibanding dengan beban mereka. Jadi aku akan terus berusaha untuk sabar dan ikhlas menjalani segalanya.

source gambar
-na yang berpikir keras untuk lebih banyak belajar-

No comments:

Post a Comment

Sobat berikanlah sepenggal katamu pada postingan sampah ini ^__^