Thursday, February 26, 2015

Hamil (lagi) ? Anak kedua?

ini pertanyaan kesekian kali terdengar dari beberapa orang kantor, teman teman dan orang-orang terdekat
Dan seketika saya menjawab "NO, belum mau. Nanti aja ya 3 tahun lagi ya"
Ini alasan detail mengapa saya belum siap
  1. Saya masih trauma mulesnya pembukaan
  2. Saya masih trauma mulesnya rangsangan induksi
  3. Saya masih trauma dengan mules yang menyiksa (walaupun setelah sibayi kecil lahir rasa sakitnya hilang)
  4. Saya ingin menyayangi Abang Arkan sepenuhnya sampai hak nya 2-4 tahun
  5. Saya ingin belajar menjadi Ibu yang lebih baik untuk Abang Arkan
  6. Saya ingin belajar menjadi Istri yang diidamkan Suami
  7. Dan kejadian-kejadian lain yang membuat saya berpikir berkali-kali (lagi) untuk menunda atau bahkan tidak mau (lagi)
-nayanglagigalau-
@office, Jakarta, 26 Feb 2015

Kapal Oleng Captain (Jilid 1)

Sudah hampir 4 tahun waktu yang dihabiskan untuk membangun Kapal yang berlayar ini. Cukup lama waktu yang dihabiskan untuk bisa mendapatkan bahan-bahan, ilmu-ilmu serta keyakinan akhirnya kapal siap untuk berlayar. 
Nakhoda yang biasa kita sebut Captain sudah mulai berlayar hampir 3 tahun, bersama seorang kepala anak buah kapal yang kita sebut perwira dan seorang ank buah kapal yang baru saja hadir setahun yang lalu. Captain dan perwira bertujuan akan berlayar jauh menyusuri dunia yang ujungnya akan berakhir di surga. Selama perjalanan memiliki tujuan-tujuan kecil seperti menyusuri daratan asia, afrika, america dan eropa. Dan terutama mereka ingin bersandar lama di Arab, ingin menuju 1 rukun Islam yakni Naik Haji. Sang perwira memang bermimpi bisa beribadah disana, di Mekkah dan Madinnah.
Setiap kapal istirahat bersandar, seluruh tenaga captain dan perwira dikerahkan untuk mencari harta karun. Ya harta karun untuk mereka bertahan hidup bersama anak buah kapal selama perjalanan sampai tujuan akhir. Harta karun yang bisa mendekatkan mereka dengan mimpi mereka.
Perjalanan ini masih baru dimulai dan masih sangat jauh mencapai tujuan mereka. Baru saja 3 tahun tiba-tiba pagi ini seperti tersambar petir, sang Captain berusaha marah karena Perwira tidak melakukan tugas sebagaima tugas yang seharusnya dilakukan. Sang Captain pun merasa tidak lagi sejalan dengan Perwira untuk mencapai tujuan yang awal mereka tentukan. Benar.... Benar... Mungkin benar.... Sang Captain ingin ke A melewati B namun sang Perwira ingin ke A melewati C. 
Pagi ini membuat kapal berhenti sejenak, mereka saling menyalahkan. Sang Captain berkata sudah cukup sabar menghadapi sikap Sang Perwira karena demi anak buah kapal dan begitupun Sang Perwira. Sebenarnya mungkin masih banyak hal yang memang tidak terucap dari mereka karena mereka menyimpan dalam hati, tapi apakah disimpan dalam hati akan selesai tanpa disampaikan? Mungkin memang butuh waktu untuk saling intropeksi diri masing-masing, untuk berpikir dengan hati bukan dengan ego demi anak buah kapal. 
Pagi ini sang Perwira langsung meminta maaf karena tidak bisa menjalankan tugas sebagaimana mestinya, sang Perwira berjalan ke sebuah pulau dengan wajah muram dan banjir air mata, tanpa disadari banyak orang yang tak dikenal melihatnya penuh tanya. Sang perwira penuh tanya mengapa sang Captain merasa sudah lagi tidak sejalan, mengapa hanya baru saja akan dimulai berlayar sudah tidak lagi sejalan, mengapa semua ini bisa terjadi karena kebodohannya, mengapa sampai setinggi itunya kemarahan muncul padahal banyak hal-hal lain yang membuat Sang Perwira jatuh dari ketinggian namun tetap tegar demi tujuan Kapal ini berlayar. 
Sang Captain pun berjalan sendiri dengan penuh tanya dan emosi, mengapa sang Perwira tidak pernah mengerti perasaannya, mengapa Sang Perwira belum juga mengerjakan tugas yang memang seharusnya dikerjakan, mengapa Sang Perwira selalu mengeluh, mengapa Sang Perwira tidak pernah membuat nya selalu nyaman.
Jalan ini masih panjang, masih banyak badai yang mungkin lebih besar dari yang dihadapi pagi ini. Sang Perwira sangat berharap kapal ini masih bisa berlayar menuju tujuan awal mereka, tanpa menoleh ke belakang. Entah bagaimana dengan sang Captain yang memegang andil paling tinggi di Kapal, sang Captain yang memiliki kekuasaan dibawa kemana kapal yang sudah mereka bangun 4 tahun dan berlayar 3 tahun ini.
Sang Perwira yang begitu pemaaf atas segala kesalahan Sang Captain, yang sekalipun tidak pernah meminta maaf dan memberikan penjelasan setiap badai kerikil kecil menghantam kapal mereka. 
Sang Perwira yang bangga memiliki Sang Captain yang selalu berusahan menyangi Sang Perwira dan Anak buah kapal. 
Sang Perwira yang percaya Sang Captain walaupun entah bagaimana di belakangnya. 
Sang Captain yang begitu tegar dan sabar memimpin Kapal untuk tetap berlayar bersama anak buah kapal. 
Sang Captain yang selalu berusaha mencari cara membahagiakan Sang Perwira dan Anak Buah kapal tanpa peduli orang sekitar berkata apa.
Sudahlah sudah biar mereka berpikir kemana Kapal ini akan mengambil jalan untuk berlayar, biar mereka berpikir cara berkomunikasi yang akan mereka gunakan selama kapal ini berlayar, biar mereka yang menentukan apakah akan terus berlayar atau memang harus terhenti karena ego mereka.


-tidak sejalan (lagi)-